Monday 26th June 2017

Ketua PW JOIN Sumut Tagih Janji Kapolri Soal Polisi Humanis

By: On:

Ketua PW JOIN Sumut Tagih Janji Kapolri Soal Polisi Humanis

Lindung Mengecam Perilaku Arogan Oknum Kawanan Brimob Memperlakukan Jurnalis.

Medan,spi.com – Salah satu janji Jenderal Tito Karnavian saat dilantik menjadi Kapolri di bulan Juni 2016 lalu, adalah melakukan reformasi di tubuh Polri. Terutama yang berkaitan dengan kultur dan perilaku anggota di lapangan agar lebih humanis.

Janji itu ditagih Ketua Pengurus Wilayah Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Sumut, Lindung Pandiangan SE SH MHum. Sebab kenyataannya sampai saat ini masih banyak ditemui anggota Polri yang bersikap arogan, seperti yang dipertontonkan sedikitnya 6 personil Brimob di gedung JCC, tadi malam.

“Jadi, mana janji Kapolri yang katanya menyiapkan beberapa program khusus? Ini bentuk arogansi kekuasaan yang katanya mau direformasi. Tapi kenapa masih banyak anggota yang arogan, tak humanis?” kesalnya”

Kata dia lagi, perlakuan oknum penegak hukum dalam menegakkan hukum harus berdasarkan hukum. Begitu juga dengan perilaku sehari hari, jangan sampai melanggar hukum. Penegak hukum itu harusnya menjadi contoh, sehingga masyarakat juga berperilaku sesuai aturan hukum.

“Saya sangat mengecam perilaku para oknum brimob yang memperlakukan jurnalis seperti penjahat besar dengan gaya-gaya preman seperti yang terjadi pada saat penyelanggaraan Indonesia Open sedang dalam puncak menngelar partai final pertama di Jakarta Convention Centre (JCC ) sekitar pukul 15.00 wib itu,” ketusnya.

Dari pengakuan korban yang dibuktikan dengan tayangan audio visual, hasil rekaman sesama wartawan menunjukkan para anggota Brimob itu sangat arogan. “Bagaimana bisa aparat hukum bertindak bergaya seperti preman begitu? Dari tayangan video, rekan-rekannya bukannya melerai, tapi malah ikut terlibat,” sesal Lindung.

Pemilik topinformasi.com itu menilai, kejadian ini menjadi tantangan bagi Kapolri untuk makin membina mental anggotanya. Aparat yang tangguh dan profesional itu harus mampu mengatasi permasalahan dengan cara-cara persuasif, bukan dengan aksi yang merusak citra institusinya.

“Kapolri harus penuhi janjinya, salah satu bentuknya yakni dengan menindak para pelaku. Bukan cuma pembinaan mental, tapi harus dijerat hukum. Karena itu pidana murni. Propam harus jemput bola, selanjutnya menyerahkan kasus itu ke Reskrim,” kecamnya. (spi/ril)