Sang Saka Merah Putih Kokoh Berkibar di Gunung Jimat

593

 

Pemalang,spi.com – Sang Saka Merah Putih berukuran panjang 72 meter, lebar 45 meter dan berat 500 kilogram, kokoh berkibar di puncak gunung Jimat Desa Mendelem Kec.Belik Kab.Pemalang, Rabu (23/8).

Pengibaran bendera Merah Putih di gunung Jimat tersebut dalam rangka Festival Merah Putih memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72, pengibaran dilakukan oleh para generasi muda Pemalang yang tergabubg dalam Organisasi Pecinta Alam (OPA) Shabawana Pemalang.

Bupati Pemalang H.Junaidi dalam sambutannya menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Allah SWT kepada kita bangsa Indonesia.

Dikatakan, kita merdeka bukan karena hadiah atau pemberian dari penjajah, tapi dari upaya semua komponen bangsa termasuk kita.

“Kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunianya dan dengan hikmat kepada para pejuang pendahulu kita yang telah mengorbankan jiwa dan raga memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia”, ungkapnya.

Disampaikan pula bahwa saat ini kita sedang diuji, diuji keanekaragaman bangsa Indonesia dan banyak orang yang meragukannya. Kebhinnekaan menjadi suatu pertentangan, nasionalisme hanya sekedar ucapan dan patriotisme seakan hilang dari ingatan kita. Ketika kepentingan bangsa mulai diabaikan, saat itulah negara membutuhkan kita untuk menghadapi persoalan dan mencari solusi.

“Diusianya yang ke-72 tahun ini, mari kita bekerja dan berkarya untuk kemajuan bangsa dan negara kita, mari kita isi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif agar bangsa kita menjadi bangsa yang besar bangsa yang maju dan menjadi bangsa pemenang”, terangnya.

“Mari kita bulatkan tekad, semangat, kuatkan jatidiri kita sebagai bangsa. Simbol kegiatan bangsa yang merdeka sebagai pengikat persatuan dan kesatuan bangsa demi tetap tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia”, lanjutnya.

Sementara itu, Brigjen TNI M.Haryanto Staf Ahli Panglima TNI Staf Ahli Tk II Bid.Komsos Panglima TNI menyampaikan kita berkumpul bersama ini dalam rangka untuk menghormati Sang Saka Merah Putih. Sesuai penyampaian KH.Habib Luthfi dalam setiap tausyiahnya untuk mengingatkan kepada kita bahwa kita harus bangga terhadap Indonesia yakni “Bangga terhadap Indonesia, bukan sombong tetapi rasa syukur kepada Allah SWT. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tetapi ungkapan rasa syukur pada Allah SWT untuk memiliki bangsa Indonesia”.

Begitu pula pesan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo telah menyerukan dan mengingatkan kepada kita semua bahwa musuh kita tidak terlihat, mereka menginginkan Indonesia pecah dan NKRI hilang. “Sebagai warga bangsa Indonesia kita wajib menjunjungnya, hal ini sebagai bagian dari rasa syukur kita kepada Allah SWT. Karenanya, mari kita isi kemerdekaan ini dan menjaganya dengan hal-hal yang positif jangan sampai kita menjadi korban dari semua musuh-musuh bangsa ini seperti radikalisme, terorisme dan paham-paham yang tidak mendukung Pancasila serta narkoba. Kita semua harus menjaga benteng kita, agar narkoba dan lainnya tidak masuk kepada kita. Mari kita jaga konsesus dasar berbangsa dan bernegara kita yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI Harga Mati”, tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, KH.Habib Luthfi Ali bin Yahya dalam tausyiahnya menyampaikan bahwa tugas generasi penerus bangsa sangatlah berat kedepannya, karenanya generasi muda bangsa harus berani dan mampu menjawab tantangan bangsa dan tantangan umatnya kedepannya.

Disampaikan pula, syukur kita kepada Allah SWT dapat membawa anugerah. Syukur tidak sekedar ucapan terima kasih, tidak sekedar Alhamdulillah dan tidak sekedar ucapan matur nuwun. Tapi mampukah ucapan terima kasih kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dikerjakan untuk kemanfaatan-kemanfaatan umat dan bangsa ini kedepannya.

“Syukur perlu ditanamkan untuk kita semua, karena kebanggaan kita kepada bangsa Indonesia merupakan bagian rasa syukur kita terhadap bangsa Indonesia”, terangnya.

Pada kesempatan yang sama, dalam tausyiahnya. KH.Habib Luthfi melantunkan puisi guna membangkitkan semangat generasi muda bangsa yakni “Kabut hitam telah menyelimuti kami, tangan-tangan kekar mengucurkan madu, ternyata tipuan belaka. Suara gendan bertalu-talu, api mengepul, kemenyan yang memabukkan. Banyak mawar-mawar menjadi layu, putik-putik bunga berserakan, namun Engkau Maha Kasih lagi Maha Penyayang. Kau turunkan beberapa sapinah-Mu, menurunkan kasih sayang yang abadi, beruntunglah manusia yang menunggunya karena akan menemukan kemerdekaan yang sejati”.

“Kita harus percaya dan harus mempunyai iman yang kuat dan sejati. Hibbul waton minal iman karena semua yang ada pada bangsa ini merupakan karunia Allah SWT. Dan kita harus saling mengenal lita arofu dengan keberagaman bangsa kita untuk bersatu”, terangnya.

“Contoh dalam kegiatan ini, ternyata dalam Al Qur’an menerangkan gunung itu pakunya bumi, maka apabila Merah Putih kita sandarkan, kita cantolkan lengkap dengan paku bumi, secara filosofi menunjukkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, lanjutnya.

“Kita harus bangga dan wajib menjaganya, sebagai orang yang beriman sejauh mana kita mengenal lita arofu. Saling mengenal yang dibekali Inna Akromakum Indallahi afdo lita arofu, orang yang mengenal Ketuhanan Yang Maha Esa”, ungkapnya.

“Sila pertama dalam Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maga Esa merupakan intisari dari seluruh sila yang ada di Pancasila. Bila Pancasila dibubarkan berarti membubarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, tegasnya.

“Kita menghormati Merah Putih bukan secarik kainnya, karena dalam kandungan Merah Putih ada harga diri bangsa, jati diri bangsa dan kehormatan bangsa”, terangnya.

Selain itu dalam tausyiahnya, KH.Habib Luthfi memberikan ikrar penyataan secara bersama yang diikuti seluruh hadirin tentang bangga menjadi warga bangsa Indonesia, “Kami bangga menjadi bangsa Indonesia, Kami bangga menjadi anak Indonesia.

Kami berjanji untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI Harga Mati dan bukan basa-basi, dan akan mempertahankan idiologi bangsa Pancasila harga mati. Kami siap membentengi yang akan merusak dan mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tegasnya.(spi/penrem)