Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 PD IV/Diponegoro di Rukiyah Untuk Bersihkan Diri

Daerah

Banyumas,sinarpagiindonesia.com –Ratusan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 PD IV/Diponegoro, pada Ceramah Pembinaan Mental dalam rangka HUT Ke-72 Persit Kartika Chandra Kirana Tahun 2018, bersama-sama melaksanakan Rukyah guna membersihkan diri setiap anggota, Senin (19/3/2018) di Gedung Pertemuan A. Yani Makorem 071/Wk Jl. Gatot Subroto No. 1 Sokaraja Banyumas.

Rukyah di bimbing oleh Ustadz Muhammad Faizar Hidayatullah dari Sokaraja Banyumas, yang pengisi acara Rykyah Syariah di Televisi Nasional alumnus Pondok Pesantren Gontor dan Al Ashar Mesir.

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 PD IV/Diponegoro Ny. Evi Julianti Suhardi menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan selain dalam rangka HUT Ke-72 Persit Kartika Chandra Kirana Tahun 2018 juga untuk membangun dan memupuk serta mempererat kebesamaan anggota Persit Kartika Chandra Kirana khususnya anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 dalam membentuk kesucian hati menuju insan berkarakter Rabbani melalui terapi Al Qur’an guna mewujudkan insan hamba Allah SWT yang mampu bekerja dengan cerdas, bekerja keras dan bekerja dengan ikhlas baik dilingkungan organisasi maupun dilingkungan keluarga dan masyarakat.

Dikatakan, pada saat ini kita sedang berada di era globalisasi dimana perkembangan informasi dan tehnologi begitu pesat dan cepat.

“Di era globalisasi ini, dampak dari perkembangan informasi dan tehnologi dapat membawa dampak positif dan negatif, yang apabila kita tidak tahu akan berdampak pada diri kita dan juga keluarga”, terangnya.

Karena disadari atau tidak, lanjutnya. Derasnya arus informasi yang menerpa kedalam kehidupan rumah tangga dapat membawa nilai positif dan negatif begitu pula dengan pola dan gaya hidup yang tidak sesuai norma dan nilai serta sistem kehidupan yang berlaku bagi keluarga masyarakat Indonesia termasuk didalamnya keluarga besar TNI.

“Guna menyikapi fenomena tersebut, kita harus bersikap teguh dan realistis dalam mengarungi kehidupan kita. Dalam arti, kita tidak menghindar arus perkembangan jaman di era globalisasi ini, akan tetapi dengan penuh kesadaran kita harus mampu dan dapat menjaga diri kita dan keluarga kita dengan memperkokoh dan memperkuat jati diri dan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia agar kita memiliki perisai kokoh untuk melindungi diri dari arus era globalisasi ini”, terangnya.

“Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai dan norma-norma ajaran agama hendaknya untuk senantiasa dilakukan dan dilaksanakan dengan baik, karena dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat dan kokoh itulah yang akan memperkokoh sikap hidup yang dinamis dan jauh dari kesesatan”, ujarnya.

Sementara itu, Ustadz Muhammad Faizar Hidayatulloh menyampaikan, problem kesehatan manusia di masa mendatang lebih bermuara pada masalah psikis-psikologi atau penyakit rohani. Karena dilandasi gandrung pada kehidupan dunia yang bersifat materi dan ketika manusia lebih cinta dunia dan seisinya, maka sisi spiritual mereka akan hilang mengering. Pada saat itulah, setan dengan segala tipu daya dan tipu muslihatnya sangat mudah merasuki manusia. Terlebih karena setan digambarkan berjalan dalam aliran darah setiap manusia. Dapat dibayangkan begitu dekatnya, dan bahkan melekat pada diri kita, kapanpun dan dimanapun setan mudah memperdayai kita manusia

“Semua penyakit pada manusia salah satunya bersumber dari setan, karena tidak ikhlas dan ridho terhadap anak cucu Nabi Adam. Maka segala daya dan upaya dilakukan setan untuk melumpuhkan dan menyesatkan manusia, termasuk melalui sakit yang dihembuskan baik sakit jasmani maupun rohani”, terangnya.

Dia mengatakan, relevan dengan hadist Nabi Muhammad SAW jika setan berjalan di dalam pembuluh manusia, karena melalui pembuluh darah ini setan mendompleng virus dan bakteri atau mikroba sehingga merugikan kondisi fisik tubuh manusia.

“Dari sisi psikoligis, setan membujuk dan menggoda manusia agar selalu marah, sedih, cemas, stres dan sebagainya. Kondisi ini dalam waktu lama akan memicu penyakit lainnya”, ujarnya.

“Al Qur’an sebagai wahyu Ilahi tidak hanya berisi ajaran ibadah, tapi juga pengobatan secara Islami. Dengan cara tersebut, setan tidak bisa mengendalikan manusia. Ada banyak ayat dalam Al Qur’an dapat mengobati penyakit jasmani maupun rohani”, terangnya.

Faizar juga menjelaskan, sebagai manusia dirinya tidak bisa mengeluarkan jin dari tubuh manusia, karena manusia sejak lahir sudah membawa qorin jin dan qorin malaikat. Jika watak manusia cenderung jahat, maka qorin yang berkembang adalah qorin jin, begitu pula sebaliknya.

“Rukyah yang baik adalah merukyah diri sendiri, kegiatan rukyah bersama ini adalah sebagai pembelajaran karena dengan belajar bersama ini setiap individu atau ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti dapat berlatih di rumah masing-masing sehingga dapat ditularkan kepada anggota keluarganya”, ujarnya.

Karena rukyah, lanjutnya. Mudah dan dapat dilakukan oleh orang-orang beriman, muslim dan mukmin. Dengan bermodalkan keyakinan yang betul dan benar serta bacaan yang benar dan sesuai yang disunahkan Rasululloh, semua bisa merukyah dengan dalil dan Kitab Suci Al Qur’an. (spi/penrem)

Tinggalkan Balasan