Diseret Hingga Jari Kakinya Putus,”Ketua Penggarap di Duga Sudah di Kondisikan Bandar Narkoba”

0
2

Medan,sinarpagiindonesia.com – Keadilan tidak berpihak pada Hamdani alias Deni (41),  warga Jermal 15 Jalan Pembangunan VII Medan Amplas, yang bakal menjalani hukuman di balik jeruji besi yang tidak pernah dia perbuat.

Ia ditangkap Tim Subdit 1 Ditrektorat Narkoba Poldasu dengan tuduhan kepemilikan sabu – sabu. Namun menurutnya tuduhan itu tidak benar, dirinya ditangkap tanpa barangbukti di badan. Mirisnya Deni ditangkap paksa diseret hingga puluhan meter, akibatnya 3 jari kaki kanannya putus.
“Ngeri bang, aku tidak ada bawa sabu, bahkan tidak ada sabu di badan saya. Masak saya dituduh memiliki sabu lalu saya diseret di aspal hingga kaki kanan saya hancur dan tiga jari kaki saya putus. Kalaulah memang saya bersalah saya ikhlas, tapi demi tuhan demi anak istri saya tidak ada saya megang sabu yang dituduhkan, ini jelas pengondisian polisi dan bandar sabu di daerah saya,” cerita Deni saat ditemui wartawan di ruang Tulip 3 RS Bhayangkara tempat ayah 3 anak ini dirawat, Selasa (22/5/2018).
Deni mengatakan, dirinya ditangkap pada, Senin (7/5) sekira jam 09.00 WIB di Jalan Jermal 15 persisnya di Gang Batako. Menurutnya, penangkapannya bermula saat Deni mendapat kabar ada keributan di lokasi garapan di Jalan Jermal 15 Gang Dojo.
Sebagai Ketua Garapan di daerah itu, Deni berniat mengecek ke lokasi. Dengan mengenderai Yamaha RX King, Deni berangkat, namun belum sampai ke lokasi masih sampai di depan Gang Batak, Deni dipepet Tim Subdit 1 Ditresnarkoba  Poldasu dengan mobil Avanza hitam hingga terjatuh.
Singkat cerita, Deni diteriaki sebagai pemilik narkoba oleh Roki (seorang oknum polisi) dan Udin yang terlebih dahulu ditangkap dalam penggerebekan di Gang Dojo.
Sesaat itu Deni langsung dipaksa masuk ke dalam mobil, karena tidak bersalah Deni berontak tidak mau masuk ke mobil. Polisi terus memaksa Deni dengan dorongan dan tarikan, Deni yang masih separuh badan masuk ke mobil, polisi langsung tancap gas sehingga kaki Deni terjepit ban mobil dan terseret aspal sehingga kakinya hancur.
“Keributan di Gang Dojo rupanya penangkapan Udin dan Roki. Saya tidak tau apa motif si Udin dan Roki menuduh saya sebagai pemilik sabu dari barangbukti mereka. Karena saya yang tidak bersalah makanya tidak terima  lalu berontak tapi polisi terus menyeret saya, karena jeritan sakit saya terseret makanya warga ramai – ramai melihat kejadian itu,” sebut Deni.
Sementara Dame Ria Sagala selaku Kuasa Hukum Hamdani pada wartawan mengatakan sangat kecewa pada Ditresnarkoba Polda Sumut sebagai pengabdi hukum bisa berbuat sadis. Menurutnya perlakuan polisi hingga menghilangkan separuh tapak kaki kliennya benar – benar tidak manusiawi.
“Ini pasti kami permasalahkan dan akan tempuh jalur hukum, masa hanya memberontak belum pasti bersalah bahkan tidak ada barangbukti mereka tega menyeret orang,” kesal Dame.
Dame juga menyebutkan ada ketimpangan yang terjadi pada penangkapan kliennya. Hingga kini polisi belum dapat menjelaskan status Udin dan Roki. “Saya heran katanya Hamdani ditangkap atas pengembangan Udin dan Roki tapi polisi tidak dapat menjelaskan status mereka, kan aneh,” sebut Dame.
Sementara Kasubdit 1 Ditresnarkoba Poldasu AKBP Fadris melalui penyidik Iptu A Sirait saat dikonfirmasi mengaku menangkap Hamdani dari dasar pengembangan penangkapan Udin.
“Hamdani kita tangkap dari dasar pengakuan Udin barangbukti sabu dua paket kecil miliknya itu didapat dari Hamdani dan semua sudah prosedur,” jelas Rait.
Ditanya polisi tega menyeret Hamdani hingga menyebabkan 3 jari kakinya putus, Sirait mengaku polisi terpaksa menyeret Hamdani lantaran situasi warga sudah ramai berkerumun bahkan ada melakukan pelemparan.
“Kita tidak mau terulang kejadian  yang dulu polisi pernah dianiaya di daerah itu. Makanya spontan saat itu,” pungkas Sirait.(spi/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here