Satgas Citarum Kembali Cor Saluran Pembuangan Limbah Pabrik

Daerah

Bandung,sinarpagiindonesia.com – Komandan Sektor 21, Satgas Citarum Kodam III Siliwangi, Kolonel Infantri Yusef Sudrajat mendapatkan temuan saluran pembuangan limbah cair yang masih digunakan untuk membuang limbah tanpa dikelola sesuai ketentuan yang berlaku. Penemuan itu, berdasarkan dari penelusuruan anggota Subsektor 1 Citarik.

“Anggota Subsektor 1 Citarik Hari Sabtu (30/6) kemarin memberikan video pembuangan limbah yang masih bau dan warnanya hitam pekat milik PT Senotexindo. Sehingga, kami lakukan penutupan dulu dengan mengecor salurannya,” Kata Yusef di lokasi.

Penutupan saluran limbah cair PT Senotexindo Jaya Lestari yang berlokasi di Kampung Sirah Gajah, Desa Nanjungmekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, terpaksa dilakukan karena pabrik tersebut masih membuang limbah yang dinilai belum dikelola sesuai aturan.

Yusef mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak pabrik sebelum melakukan penutupan saluran pembuangan limbah itu. Namun, pihak pabrik sempat bersikeras bahwa limbah yang dibuang ke anak Sungai Cimande itu sudah sesai aturan.

“Kata orang pabrik, warna hitam itu tidak masuk aturan baku mutu. Pasalnya mereka mengacu regulasi Kementerian Lingkungan Hidup. Padahal jika ditelaah lagi, warna hitam itu Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD),” terang Yusef. Ia menjelaskan, jika standar baku mutu untuk BOD adalah 60 PPM dan C0D adalah 160 PPM.

Proses penutupan saluran pembuangan limbah cair dengan proses pengecoran semen di anak Sungai Cimande itu cukup menyulitkan anggota Satgas, yang harus membendung air sungai terlebih dahulu agar pipa pembuangan yang ditanam di bawah permukaan air itu bisa terlihat.

Menurut Yusef, sebagian besar pabrik-pabrik yang ditutup saluran pembuangan air limbahnya memang menempatkan saluran pembuangannya secara tertutup. Artinya, pipa saluran pembuangan air limbah memang sengaja dibuat seolah tidak terlihat dengan cara dipasang di bawah permukaan air sungai.

Hal ini, kata Yusef, dinilai salah satu cara untuk mengelabuhi warga atau petugas tentang keberadaan pipa saluran pembuangan itu. Sehingga, air limbah yang dibuang ke sungai langsung bercampur dengan air sungai.

“Tapi jika diperhatikan, di titik-titik yang ada pipa pembuangannya, warna airnya pasti berbeda. Bisa hitam, biru atau bahkan berbau tidak sedap. Kami akan terus melakukan pengawasan kepada pabrik-pabrik ini,” tegasnya dia.

Satgas Sektor 21 akan kembali membuka semen coran penutup saluran limbah, jika pabrik sudah memperbaiki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Pabrik yang saluran limbahnya dicor, harus melapor ke Satgas Sektor 21 jika IPAL sudah diperbaiki.

“Mereka wajib laporan dulu dan enggak boleh bongkar corannya sendiri. Nanti yang membongkar corannya kami sendiri dan itu jika pabrik sudah betul-betul menuntaskan dan memperbaiki masalah IPAL-nya,” tutupnya. (spi/dimas)

Tinggalkan Balasan