Upja Sugih Mandiri Ikut Lomba Upja Tingkat Nasional

0
111

Cicalengka,sinarpagiindonesia.com –  Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Sugih Mandiri Desa Margaasih Kecamatan Cicalengka kedatangan tim penilai tingkat inilai tingkat nasional, dalam program Pelaksanaan Pembianan dan Evaluasi Kinerja UPJA, Sabtu (8/9/2018).

UPJA Sugih Mandiri yang beralamat di kampung Ciseureuh Girang Rt. 01 Rw. 09 Desa Margaasih Kecamatan Cicalengka, mengikuti lomba penilaian Upja Tingkat Nasional. Rombongan tim penilai disambut langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Ir. Tisna Umaran, Kepala bidang Holtikultura Jabar, Camat Cicalengka, Danramil dan Kapolsek Cicalengka, dan kelompok petani.

Kepala Dinas Pertanian Ir. Tisna Umaran mengatakan asset UPJA Sugih Mandiri sudah mencapai 2 milliar. Asset tersebut berupa puluhan alat dan mesin pertanian.

“Asset Upja Sugih Mandiri sudah mencapai 2 Milliar berupa Alas Mesin Pertanian,” ungkapnya dalam menyambut tim penilai lomba.

Kabupaten Bandung memiliki luas areal wilayah tanaman padi seluas 35.540 hektar. Ia meyampaikan terima kasih atas dukungan dari pemerintah pusat sangat terasa dengan penyediaan alsintan.

Terkait dengan banyaknya UPJA, menurutnya Kabupaten Bandung baru memiliki enam upja yang sudah berbadan hukum, yang berada di Kecamatan Cicalengka, Ciparay, Majalaya dan Bojongsoang.

Sementara itu, Ketua tim penilai Dr. Siti Holipah kepala pusat penyuluhan pertanian pusat, mengatakan kalau penilaian UPJA sudah dua tahun fakum, baru tahun ini diadakan kembali penilaian.

Untuk jumlah alsintan sendiri, sudah tersebar se indonesia sebanyak 190.000 alsintan. “Pemerintah pusat sudah mengeluarkan bantuan alat mesin pertanian sebanyak 190.000, secara nasional,” ungkapnya.

Untuk penilaian, UPJA Sugih Mukti akan bertarung dengan 14 nominator lainnya. Program ini merupakan program dari direktorat prasarana dan alat pertanian kementerian pertanian republik Indonesia.

Ia berharap, UPJA tidak fokus pada mesinnya saja melainkan harus berpikir bisnis. “Jangan fokus hanya mesin nya saja tetapi juga harus mengurus bisnisnya juga,” ungkap Siti.

Meurutnya, Alat mesin ini adalah salah satu cara untuk menarik generasi muda dilibatkan dalam pertanian. Kedepan Upja di proyeksikan sebagai pabrik yang mengerjakan proses produksi tani padi.

Diharapkan Upja menjadi sebuah usaha mandiri di level petani tetapi berpola industri. “Upja jangan bertujuan untuk dinilai saja tetapi harus bertujuan industri,” katanya.

Untuk pemberian bantuan alat, harus di sesuaikan dengan kondisi di lahan pertanian, sehingga alsistan dapat berfungsi. “Pemberian bantuan dari pemerintah harus berdasarkan kebutuhan petani, sehingga Alsintan dapat berfungsi da tidak menjadi tumpukan besi tua,” ungkapnya.

Ajang Amin Manager UPJA Sugih Mandiri mengatakan, sudah sebanyak 20 jenis alsistan yang dimilikinya, sejak 2010 dibentuk, dan berbadan hukum dintahun 2015. “Penghasilan UPJA dari sewan alat sesuai dengan harga per jenis alsistan,” ungkap Ajang.

Untuk petani yang menjadi langganan penyewaan alatnya, berasal dari para petani di kabupaten bandung, hingga luar Kabupaten badung. “Kita sewakan alat kepada petani di kabupaten bandung, sumedang, dan garut.

Menurutnya, pada awalnya Upja sugih mandiri hanya punya satu traktor. Dalam jangka waktu satu tahun menjadi dua traktor. Tahun 2018 dengan penambahan bantuan dari pemerintah menjadi delapan traktor, 3 kultipator dan alsistan lainnya sebanyak 20 jenis.

“Masih ada kendala dalam efektifitas alat berada di Upjanya, namun kemungkinan besar masih bisa megembangkan kerjasama dengan para petani di luar kabupaten bandung kedepan,” tuturnya.

Kepala Desa Margaasih Dudi Suryadi, mengutarakan dukungan kepada Upja di wilayahnya. Mudah-mudahan dengan penilaian tersebut dapat memotivasi dan ada pencerahan agar Upja Sugih Mandiri dapat lebih berkembang.

“Kita sangat mengapresiasi dan akannteus mendorong supaya Upja Sugih Mandiri di desa kami dapat terus berkembang dan maju,” tukasnya. (spi/andi/dimas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here