Mimpi Kerja di Korea Pupus, Pemuda Asal Siantar Jadi Budak Kapal China

77

Sinarpagiindonesia.com – Mimpi Reynalfi bekerja di Korea Selatan amblas. Tersisa raut kesedihan, Senin (15/7). Pria asal Siantar, Sumatra Utara ini jadi korban penipuan sindikat perdagangan orang (human trafficking) internasional.

Tak ke Korea, Reynafi justru ‘diperbudak’ kapal berbendera China. Bersama seorang temannya, ia kemudian memilih melompat di perairan Kepulauan Riau, 7 Juni silam. Sempat terapung di laut selama 7 jam, ia diselamatkan kapal nelayan.

Kisah sedih itu disampaikan Reynalfi kepada awak media, Senin (16/7). Tak ada rasa takut dan canggung. Dengan lancar, pria berkulit sawo matang ini dengan gamblang menceritakan awal mula bekerja di Kapal Lu Qing Yuanyu 213 berbendera China.

“Awalnya saya diajak teman. Katanya ada kerjaan di Korea, di pabrik. Gajinya besar, Rp25 juta. Namanya mau ubah nasib, ya saya mau lah,” katanya bercerita.

Untuk bisa bekerja di pabrik di Korea yang ditawarkan, Reynalfi diharuskan membayar biaya sebesar Rp45 juta. Uang itu digunakan untuk biaya pengurusan sejumlah dokumen dan biaya keberangkatan dari kampungnya ke Korea.

“Uangnya dari keluarga. Dikumpul-kumpul dan sudah saya bayar cash,” sambungnya lagi.

Bermodal tekad memperbaiki ekonomi keluarga, Reynalfi berangkat ke Jakarta. Dari Jakarta ia meneruskan perjalanan ke Singapura. Kata orang yang ‘mengurus’ keberangkatannya, ia dan beberapa korban lainnya akan diberangkatkan menggunakan pesawat ke Korea.

Namun, setibanya di Singapura, Reynalfi mendapat informasi bahwa dirinya tidak jadi berangkat menggunakan pesawat ke Korea. Ia malah dibawa ke sebuah kapal.

“Saya sempat tanya pakai bahasa isyarat, bener enggak mau dibawa ke Korea dengan kapal ini. Orang itu jawab pake bahasa isyarat juga, maksudnya iya. Ya udah saya ikut saja,” ujar Reynalfi.

Menempuh perjalanan 11 jam, Reynalfi dipindahkan ke sebuah kapal berbendera China. Di sana, ia diberikan baju khusus ABK (anak buah kapal). Hal ini membuat Reynalfi bingung.

“Saya tanya ke mereka, maksudnya apa dikasih baju itu. Tapi mereka jawab, ‘Jangan banyak tanya, sekarang kalian kerja di sini dan ikut aturannya’. Saya bingung dan nggak bisa berbuat apa-apa lagi,” cerita Reynalfi.

Terhitung 7 bulan lamanya Reynalfi bekerja di kapal pencari cumi tersebut. Tak ada perlakuan yang baik. Sebagai orang Indonesia yang sudah terbiasa makan nasi, Reynalfi dan 11 WNI yang ada di kapal itu hanya diberi makan nasi sekali sehari. Selebihnya, ia hanya diberi makan mi atau kue pao.

“Ya sampai dimana lah kenyangnya makan mie atau pao kalau nggak makan nasi,” keluh Reynalfi.

Dengan porsi makan yang terbatas, tenaga Reynalfi dikuras. Dalam sehari, ia harus bekerja sedikitnya 20 jam. Tidak jarang juga ia tidak mendapatkan waktu beristirahat. Tidur pun tak usah ditanya. Mata Reynalfi sangat jarang terpejam.

Diterpa angin laut, Reynalfi kerap kedinginan di atas kapal yang terus berlayar di Samudera Hindia.

“Kapal itu nggak pernah bersandar. Pokoknya di situ-situ aja. Berlayar terus,” sambung Reynalfi.

Reynalfi juga mengaku kerap memperoleh perlakuan tak mengenakkan dari kru kapal lainnya yang merupakan WN Myanmar dan Cina. Ceritanya, dari total 31 kru kapal, 12 orang diantaranya adalah WNI. Sama dengan Reynalfi, mereka kerap mendapat perlakuan kasar.

“Saya pernah disepak (ditendang) sekali. Kalau teman saya, ada yang dipukulin juga,” kata Reynalfi.

Tak tahan dengan perlakuan tersebut, Reynalfi rekannya, Andri Juniansyah merancang sebuah rencana untuk melarikan diri dari kapal Cina itu. Niatnya dan Andri juga disampaikan ke WNI lain yang ada di kapal. Namun, hanya ia dan Andri yang akhirnya memiliki tekad untuk kabur dengan cara terjun ke laut.

“Sudah kami persiapkan 3 hari sebelum lompat (ke laut) itu. Teman-teman yang lain tahu, tapi mereka nggak mau ikut. Mereka takut,” ujar Reynalfi lagi.

Selain menyiapkan mental, Reynalfi mempersiapkan kebutuhan lainnya. Ia mencuri pelampung dan pluit yang ada di kapal. Tak lupa, Reynalfi juga mencuri senter. Perlengkapan ini dibawanya untuk mencari pertolongan di laut.

Sampai di waktu yang direncanakan, Reynalfi dan Andri lompat ke laut. Kejadian itu usai makan malam. Diawasi oleh WNI lain, keduanya lompat dari buritan kapal. Diam-diam, kedua berenang di lautan yang diketahuinya merupakan perairan Indonesia.

“Karena kami tahu itu sudah masuk wilayah Indonesia, makanya kami loncat. Tapi kami nggak tau itu di daerah mana. Daratan kelihatan sih, tapi setelah kami loncat dan berenang, ternyata jauh juga ke darat,” cerita Reynalfi lagi sembari sedikit tersenyum.

Tujuh jam berada di laut, Reynalfi dan Andri saling menjaga satu sama lain. Terombang ambing di lautan, tak banyak yang bisa dilakukan keduanya selain berenang dan berdoa. Seakan tak ingin terpisah, keduanya terus berpelukan.

“Kami saling berpelukan. Pokoknya 7 jam di laut, kami pelukan terus. Takut terpisah karena kalau terpisah, takut terjadi apa-apa sendiri, kan bahaya. Kaki saling kami kaitan juga,” seloroh Reynalfi.

Selama di lautan, Reynalfi dan Andri berusaha mencari pertolongan. Reynalfi memberikan isyarat dengan cahaya senter yang dibawanya ke arah kapal-kapal yang berlayar di sekitar mereka. Tidak ketinggalan juga, Reynalfi membunyikan pluit yang digantungnya di leher.

“Kapal yang lewat itu banyak. Sudah saya kasih tanda, pakai lampu senter, bunyiin pluit tapi nggak ada yang ngeliat. Akhirnya pasrah saja sambil optimis bakal selamat,” sambung Reynalfi.

Hingga akhirnya, ia melihat kapal milik Azhar, nelayan setempat yang tengah mencari ikan. Azhar melempar jaring yang kemudian ditarik oleh Reynalfi. Jaring tersebut sempat tersangkut di tangan korban.

“Saya tarik jaringnya biar orang itu tahu kalau ada orang di laut. Akhirnya dia ngeliat saya dan teman saya,” kata Reynalfi.

Melihat Reynalfi dan Andri tak lantas membuat Azhar langsung menyelamatkan keduanya. Azhar sempat ketakutan mengira keduanya adalah hantu laut. Namun setelah sedikit mendekat, Azhar baru menyadari bahwa ada dua orang manusia yang tengah terapung di laut memohon pertolongannya.

“Kami minta bantu, tapi dia menolak. Dia sempat tanya pakai bahasa Melayu dikiranya kami orang Singapura atau Malaysia. Tapi saya bilang kalau kami WNI. Barulah dia mau menolong dan disuruh naik ke kapalnya,” cerita Reynalfi.

Reynalfi dan Andri diselamatkan oleh Azhar hingga ke daratan. Ia pun dibawa oleh Azhar ke Polres Karimun. Reynalfi mengaku bersyukur dirinya masih bisa selamat dan bernafas hingga saat ini. Hanya rasa sedih dan kekecewaan yang masih berkecamuk di dirinya. Terbayangkan wajah anggota keluarga di kampung halaman. Ia pun berharap, kisah pilu itu tak ada lagi.

“Saya bersyukur bisa selamat dan keluarga saya juga sudah tahu. Ini pelajaran bagi saya dan semoga tidak terjadi sama yang lain. Semoga semua pelaku cepat tertangkap,” tutup Reynalfi. (dek/red)