Kisah Cerita Tentang Lae Pendaroh Mengambil Lokasi Syuting di Dua Tempat

83

Dairi,sinarpagiindonesia.com – Filem cerita pendek berjudul ‘Lae Pendaroh’ karya dari dua SLTA, yakni SMK HKBP dan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) di Kecamatan Sidikalang, mengambil lokasi syuting di dua tempat yakni di Kecamatan Silahisabungan dan Sitinjo.

Ketika penayangan Film Cerita Pendek Lae Pendaroh karya pelajar Dairi itu,ikut nonton bareng bersama Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu,didampingi Ketua Deskranasda, Ny Romy Mariani Eddy Berutu dan SKPD serta para kru dan pemeran yang bertempat di Ofal Cafe, Jalan Pahlawan,Kecanatan Sidikalang Kamis (29/07/20/20).

Filem yang berdurasi 15 menit tersebut , mengangkat tema kedaerahan, kultur dan mitos masyarakat setempat tentang larangan melakukan hal-hal yang tidak baik di alam terbuka. Pemutaran film yang ditayangkan serentak di Indonesia pada jam 16.00 WIB secara virtual, difasilitasi Viu shorts.

Usai menyaksikan penayangan film tersebut,Bupati mengatakan sangat bangga dan gembira, karena anak-anak Dairi mampu mengekspresikan bakat dan talentanya, yang mampu mengolah cerita rakyat diceritakan orang-orang tua secara turun temurun menjadi sebuah tayangan yang menarik.

“Cerita itu kini tampil di film layar yang memenuhi standar dan kaidah internasional. Saya tahu pengarapan film ini sangat pendek, hanya 14 hari. Dari awal sampai akhir saya sangat cemas, tetapi setelah melihat hasilnya saya sangat bangga,” ucap Eddy Berutu.

Disebutkan lagi,Karena kita mempunyai tugas diantaranya yang pertama sektor kreatif yang diharapkan nantinya bisa menghasilkan devisa. Kedua sektor lapangan kerja bagi anak-anak muda kita di dunia kreasi dan dunia kerja baru yang modern.
Ini Sinematografi, satu lapangan kerja yang berbeda lagi. Ini merupakan ujian, apakah anak-anak bersemangat dan mampu berkomitmen. Ternyata mereka mempunyai komitmen dan masyarakat Dairi melihat hasilnya, dan itu sangat memuaskan sekali.

“Maka saya ingin mendapat dukungan dari masyarakat, karena kalau hanya dari pemerintah tidak akan sanggup. Tapi kalau dukungan dan dorongan itu datang dari seluruh masyarakat Dairi, kami percaya pasti bisa mengangkat budaya kita.

Sehingga anak-anak kita bisa mendunia dan masuk ke episode yang lain. “Saya pikir ini gabungan dari berbagai hobi fotografi, ada yang hobi nulis, pementasan. Pesan saya ini peluang besar, kalau anak-anak mau pemerintah akan berusaha menciptakan ruang-ruang dan menyediakan anggaran,” ucapnya.

Agar seluruh masyarakat Dairi untuk menonton film karya putra/i Dairi, karena semangkin banyak yang nonton dan mengklik maka semangkin banyak peluang untuk menjadi filim terbaik.“Semakin banyak yang menonton, maka ada peluang salah satu anak-anak kita mendapat beasiswa untuk kuliah di Instititut Kesenian Jakarta (IKJ),” terangnya. (spi/k.tumangger)