Samosir, www.sinarpagiindonesia.com – Danau Toba yang dewasa ini semakin dikawatirkan akan semakin tidak baik-baik saja, harus segera dikelola dengan UU yang bernama Otorita Danau Toba. Presiden Prabowo Soebianto dan Ketua DPR RI Puan Maharani diharapkan berkenan mengajukan rancangan undang-undangnya baik sebagi usulan Pemerintah maupun atas insitiatif dari Parlemen.
Ketua Umum Forum Peduli Danau Toba Efendy Naibaho menyampaikan harapan ini setelah mengikuti Doa Bersama Merawat Alam Kawasan Danau Toba bersama Eforus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pdt Victor Tinambunan dan jajarannya di HKBP Bolon, Pangururan, Samosir, Selasa 01/04/25 dihadiri ribuan jemaat yang berlangsung sukses dan hikmat.
Efendy Naibaho, mantan anggota DPRD Provinsi Sumut dua periode itu dalam kapasitasnya sebagai jurnalis menyatakan Danau Toba dan kawasannya itu harus dikelola secara holistik dengan undang-undang. Doa Bersama yang dilakukan tentu sangat bagus termasuk penanaman pohon, menggugat perusak – perusak Danau Toba dan seruan seruan tutupnya sebuah perusahaan di kawasan tersebut.
Berbagai kegiatan yang menyerukan Save The Tao dan mempertahankan tanah yang termasuk hak-hak adat, khususnya seminar terkait RUU Otorita Danau Toba dan program “Menanam Sejuta Pohon dan :Bersih-bersih Danau Toba, sudah pernah dilakukan namun tak bergaung. Semangat baru muncul kembali setelah Eforus Victor Tinambunan meneruskan gerakan-gerakan eforus sebelumnya khususnya ketika eforus dijabat SAE Nababan.
Gerakan Eforus HKBP yang mengajak jemaatnya berpolitik, mendapat sambutan hangat khususnya dari tokoh-tokoh dan aktifis gerakan seperti Parkindo, GMKI, GAMKI dan lainnya. GMKI Siantar juga hadir di acara Doa Bersama bersama tokoh-tokoh Parkindo dan berbagai LSM. “Kami berharfap Eforus HKBP mau bersama-sama mengajukan RUU Otorita Danau Toba kepada Pemerintah”, pinta Efendy Naibaho sembari menambahkan intervensi politik untuk RUU itu tentu nya tidak mudah namun ketika sudah menjadi undang-undang, intervensi anggarannya dipastikan akan sangat besar.
Efendy Naibaho menyebutkan pengelolaan Danau Toba dengan berbagai aspeknya meliputi rakyat dan ekosistemnya, memerlukan keseriusan dan para kepala daerah di 7 kabutapen yang mengelilingi Danau Toba akan semakin fokus di era pengetatan anggaran sekarang. Bisa juga menyontoh Otorita Batam. Eforus HKBP sendiri dalam akun facebooknya, Rabu (02/04/25) menyebutkan Danau Toba sedang mengerang kesakitan. Kita memperlakukannya seperti “tong sampah raksasa”. Tahun 2016: 1.200 ton ikan mati, 2018: 200 ton ikan mati, dan pada 2020: 100 ton ikan mati. Ini hanya menyebut beberapa masalah saja.
Kita semua, individu (di Bonapasogit dan perantauan), Gereja, Pemerintah, pengusaha dan semua kita harus sungguh-sungguh bertindak bijak agar Danau Toba tetap sungguh amat baik sebagaimana Tuhan kehendaki. Danau Toba bukan hanya sebagai objek pemenuhan keinginan kita, ia berharga di mata Allah yang menciptakannya, ujar Eforus.
Lanjut Eforus, Allah melihat ciptaan-Nya sungguh amat baik (Kej 1:31). Tetapi Kawasan Danau Toba sedang tidak baik-baik saja. Sudah sejak lama Danau Toba mengerang dan menjerit kesakitan karena ulah kita. Tugas kita bersama merawatnya: individu, keluarga, pelayan dan warga gereja, penganut agama, pemerintah, pengusaha.
Kita semua secara bersama-sama: yang berada Bonapasogit dohot di perantauan .. Ora et Labora, berdoa dan bekerja. Kita doakan apa yang kita kerjakan dan kita kerjakan apa yang kita doakan: merawat alam ciptaan Tuhan, demikian Ephorus.(SPI FS )
No comment