JPU Bacakan Tuntutan 8 Bulan, Pengacara AS Bos Topqua Siapkan Pembelaan Kliennya Agar Bebas Murni

91

Pontianak, www.sinarpagiindonesia.com – M.Ali Makim, SH salah satu pengacara dari terdakwa Ali Sabudin (AS) bos air mineral Topqua kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) akan persiapkan pembelaan untuk kliennya pada sidang lanjutan (sidang ke- 11) Senin (6/12) yang akan datang.

“Saya akan perjuangkan pembelaan agar klien saya AS dibebas murni, karena dakwaan jaksa lemah tanpa bukti yang kuat”, ungkap Ali Makim saat di wawancarai wartawan mengomentari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Samad,SH yang dibacakan pada persidangan hari ini, Kamis siang (38/12) (sidang ke-10) di Pengadilan Negeri (PN) Pontianak.

Sidang di Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Kamis siang (30/12)dipimpin langsung oleh hakim ketua Narni Priska Faridayanti,S.H.M.H, hakim anggota Dewi Apriyanti,S.H.M.H dan Moch Ichsanuddin,S.H.M.H, dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Samad SH. Sementara terdakwa AS didampingi Penasehat Hukumnya (PH) Ali Makim, SH.

JPU dalam pembacaan tuntutan mengungkapkan AS terbukti melakukan penganiayaan terhadap istrinya Lili Susianti (LS) dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) . JPU menuntut 8 bulan hukuman bagi AS.

Ali Makim lebih lanjut mengungkapkan tuduhan JPU tidak kuat, semua saksi yang disebut dalam BAP tidak mampu dihadirkan, “Saya anggap saksi tidak ada, walaupun di BAP ada tanda tangan saksi, kami meragukan orang nya memang tidak ada, hanya rekayasa saja. Kalau ada tampilkanlah di persidangan”, paparnya menantang.

“Dalam pledoi nanti kami minta bebaskan klien kami”, tandas Ali Makim.

Ali Makim menambahkan, dalam argumen hukum di pledoi nanti akan diperjelas saksi saksi klien kami yang sudah cukup kuat.

BAP yang ada menurutnya cacat hukum. “Lihat saja tulisan yang tertera diatasnya tertulis tersangka, sedangkan dibawahnya tertulis saksi. “Tidak boleh ada kesalahan dalam BAP, itu namanya cacat hukum”, papar Ali Makim.

Hal ini diakui oleh Iptu Insan Malau, saksi verbalisan penyidik dari kepolisian yang mengatakan salah ketik.

Ali Makim tetap berkeras hal itu BAP sudah cacat hukum

Bukti yang disebutkan berupa visum, seperti yang dibacakan JPU, juga ada keanehan, diberkas laporan polisi pada tanggal 27 Mei 2011 pukul 18.00 wib, sementara visum lebih awal pada tanggal yang sama visum dilakukan pada pukul 16.00 wib. “Ini ada apa ?”, ungkap Ali Makim.

“Tuntutan jaksa berdasarkan visum tidak sesuai dengan bukti bukti tertulis secara hukum”, ungkapnya.

“Tunggulah Senin depan pledoi saya, semua akan saya beberkan di depan majelis hakim, banyak kejanggalan dalam BAP”, ungkapnya.

Usai JPU membacakan tuntutan, hakim ketua menunda sidang dan persidangan akan dilanjutkan pada senin depan (3/1/22) dengan agenda pledoi (pembelaan) dari terdakwa yang akan dibacakan pengacaranya (spi/tim)