Medan,sinarpagiindonesia.com –Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Jurnalis Batak Intelektual Bersatu (JBIB) menegaskan bahwa keberadaan organisasinya bukanlah organisasi yang dibentuk secara serampangan ataupun sekedar nama tanpa dasar administrasi dan legalitas. Sejak berdiri pada 2023, JBIB mengaku telah mempersiapkan berbagai kelengkapan organisasi dan dokumen legalitas sebagai fondasi dalam menjalankan aktivitasnya.
Penegasan tersebut disampaikan Pendiri sekaligus Ketua Umum (Ketum) JBIB, Irena Sinaga, SH, pada Jumat (21/8/2026), di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) JBIB, Medan.
Irena mengatakan, perjalanan JBIB selama kurang lebih tiga tahun bukan sekedar berbicara mengenai nama, struktur kepengurusan maupun kegiatan organisasi. Menurutnya, sebuah organisasi juga harus dibangun dengan konsistensi, tanggung jawab, administrasi yang tertib serta legalitas yang jelas.
“JBIB berdiri tiga tahun lalu, tepatnya pada tahun 2023. Sejak awal kami tidak ingin membangun organisasi hanya berdasarkan nama atau kepentingan sesaat. Kami membangun dengan struktur, aturan, administrasi, dan legalitas yang jelas. Semua berkas kami lengkap,” tegas Irena.
Menurut Irena, keberadaan sebuah organisasi tidak seharusnya dinilai hanya dari aktivitas yang terlihat di permukaan. Deklarasi, atribut, maupun kegiatan seremonial bukan satu-satunya ukuran. Sebaliknya, organisasi harus memiliki fondasi yang jelas dan mampu mempertanggung jawabkan setiap aktivitasnya.
JBIB, lanjutnya, sejak awal didirikan dengan semangat membangun wadah bagi para jurnalis yang memiliki kepedulian terhadap profesionalisme, intelektualitas dan kepentingan masyarakat.
“Yang paling penting bagi kami adalah legalitas dan pertanggungjawaban. Kalau sebuah organisasi berdiri secara resmi dan seluruh administrasinya dipersiapkan dengan baik, maka jangan kemudian dianggap sepele hanya karena baru berusia tiga tahun,” ujar Irena.
Irena mengakui bahwa usia JBIB masih relatif muda dibandingkan organisasi-organisasi lain yang telah lebih dahulu berdiri. Namun, menurutnya, usia bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas dan kredibilitas sebuah organisasi.
Baginya, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi menjalankan aturan, menjaga komitmen, bekerja secara konsisten, mempertahankan integritas serta mempertanggung jawabkan setiap langkah yang diambil.
“Organisasi itu bukan soal siapa yang paling lama berdiri. Bukan pula soal siapa yang paling banyak bicara. Yang menentukan adalah kerja nyata, konsistensi, integritas, dan kemampuan mempertanggung jawabkan organisasi itu sendiri,” katanya.
Sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum, Irena mengaku memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga arah perjalanan JBIB. Ia tidak ingin organisasi yang dibangun sejak 2023 tersebut kehilangan tujuan hanya karena dinamika internal maupun tekanan dari luar.
Menurutnya, organisasi kewartawanan harus berani berdiri pada prinsip. Profesi jurnalistik memiliki hubungan erat dengan kepentingan publik sehingga insan pers dituntut tetap kritis, namun sekaligus memahami batas-batas profesionalisme dan tanggung jawab.
“Jurnalis harus intelektual, harus kritis, tetapi juga harus punya tanggung jawab. Jangan kritik hanya untuk mencari sensasi. Jangan pula diam ketika ada persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Irena menjelaskan bahwa nama Jurnalis Batak Intelektual Bersatu memiliki makna yang tidak sederhana. Menurutnya, identitas “Batak” tidak boleh dipahami sebagai pembatas hubungan sosial. Sebaliknya, identitas tersebut harus menjadi energi untuk membangun persaudaraan, solidaritas dan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Sementara kata “intelektual”, kata Irena, menjadi pengingat bahwa seorang jurnalis tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan menulis berita. Jurnalis harus mampu membaca persoalan secara lebih mendalam, melakukan verifikasi, memahami konteks serta menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
“Jangan sampai wartawan hanya mengejar berita, tetapi tidak memahami persoalan. Kita harus mampu melihat masalah secara utuh. Itulah mengapa unsur intelektual sangat penting dalam organisasi ini,” jelasnya.
Irena juga menyoroti tantangan dunia jurnalistik di era digital. Perkembangan teknologi membuat informasi dapat beredar dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tersebut menurutnya tidak boleh mengorbankan akurasi dan kebenaran informasi.
Ia menilai tantangan terbesar jurnalis saat ini bukan semata-mata bagaimana mendapatkan informasi paling cepat, tetapi bagaimana memastikan informasi tersebut benar, berimbang dan tidak menyesatkan masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, organisasi kewartawanan dinilai memiliki peran penting untuk mendorong peningkatan kapasitas anggota sekaligus menjaga etika jurnalistik.
“Kecepatan bukan alasan untuk mengabaikan kebenaran. Kita boleh cepat, tetapi harus tetap akurat. Kita boleh kritis, tetapi jangan kehilangan etika,” katanya.
Lebih jauh, Irena kembali menegaskan bahwa kelengkapan legalitas menjadi salah satu fondasi utama JBIB. Ia menyebut berbagai dokumen dan administrasi organisasi telah dipersiapkan dan dilengkapi sesuai kebutuhan organisasi.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak melihat JBIB secara objektif berdasarkan keberadaan, kegiatan dan dokumen yang dimiliki, bukan berdasarkan asumsi maupun penilaian sepihak.
“Kalau ada yang mempertanyakan legalitas JBIB, silakan kita bicara secara terbuka berdasarkan dokumen. Jangan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi. Kami siap menunjukkan bahwa organisasi ini berdiri dengan administrasi dan berkas yang lengkap,” tegasnya.
Menurut Irena, kritik terhadap organisasi pada prinsipnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kritik justru dapat menjadi bahan evaluasi apabila disampaikan berdasarkan fakta. Namun, ia menilai tudingan tanpa dasar harus dijawab dengan data dan dokumen.
“Kalau kritik berdasarkan fakta, kami terbuka. Tetapi kalau hanya tudingan tanpa dasar, tentu kami tidak akan tinggal diam. Kami punya dokumen, kami punya sejarah berdirinya organisasi, dan kami tahu apa yang kami kerjakan,” ujar Irena.
Irena menambahkan, tiga tahun perjalanan JBIB merupakan fase penting untuk memperkuat fondasi organisasi. Ke depan, DPP JBIB akan terus mendorong konsolidasi internal, peningkatan profesionalisme anggota serta memperluas kontribusi organisasi di tengah masyarakat.
Ia menegaskan JBIB tidak dibangun untuk menjadi organisasi yang hanya aktif ketika muncul kepentingan tertentu.
“JBIB tidak boleh hidup hanya ketika ada momentum. Organisasi harus terus bergerak. Kami ingin membangun organisasi yang punya arah, punya karakter, dan punya tanggung jawab,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran JBIB agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai dinamika. Menurutnya, perjalanan organisasi harus tetap berpegang pada aturan dan tujuan awal pendirian.
Sebagai organisasi yang berdiri sejak 2023, JBIB masih memiliki perjalanan panjang. Namun, Irena optimistis bahwa dengan legalitas yang lengkap, konsolidasi yang kuat dan komitmen seluruh jajaran, organisasi tersebut dapat berkembang lebih jauh.
“Usia tiga tahun bukan alasan untuk minder. Justru ini momentum untuk membuktikan bahwa JBIB mampu berdiri dengan kaki sendiri. Kami tidak ingin besar karena sensasi. Kami ingin besar karena kerja, integritas, dan kepercayaan,” pungkas Irena.
Dengan sikap tersebut, Pendiri sekaligus Ketua Umum JBIB Irena Sinaga, SH, menegaskan bahwa keberadaan organisasi yang dipimpinnya bukan sekadar formalitas. Tiga tahun perjalanan sejak 2023 menjadi bagian dari proses membangun organisasi melalui administrasi, konsolidasi dan komitmen untuk terus berkembang.
Pesan Irena pun tegas: jangan menilai sebuah organisasi hanya dari usianya. Lihat legalitasnya, lihat kerjanya, dan lihat pertanggung jawabannya.(spi/red)









