Aceh Singkil,sinarpagiindonesia.com –Langkah tiba-tiba yang dilakukan Kepala Desa Tangkuhan, Rusliadi Cibro, dalam menggerakkan gotong royong dan membersihkan lingkungan desa kini dipandang sebelah mata oleh publik. Gerakan ini dinilai masyarakat hanyalah akrobat pencitraan belaka, semata-mata untuk menutupi aib dan kelalaian yang selama ini disembunyikan.
Kesimpulan itu muncul bukan tanpa alasan. Aksi bersih-bersih tersebut diketahui dilakukan tepat setelah terbongkar dan tersorot tajam oleh awak media mengenai kondisi kantor desa yang terbengkalai, kotor, dan tidak terurus. Publik mempertanyakan kesungguhan hati sang pemimpin desa, karena ia hanya bergegas merapikan dan membersihkan kantor desa ketika “borok” dan kelalaian kerjanya sudah terendus dan menjadi sorotan publik.
“Sejujurnya, ini tidak lebih dari upaya menutupi malu. Jika saja tidak ada ketegasan dan sorotan media yang membongkar fakta di lapangan, mungkin hingga detik ini kantor desa akan tetap dibiarkan terbengkalai, berdebu, dan tak terurus tanpa ada perbaikan sedikitpun,” tegas pengamat sosial di wilayah itu.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan yang terjadi bukan lahir dari kesadaran dan tanggung jawab sebagai pemimpin, melainkan didorong oleh rasa takut terhadap eksposur publik. Masyarakat Aceh Singkil diharapkan tidak mudah tertipu oleh kemasan indah sesaat. Sorotan tajam ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, bahwa kinerja dan pelayanan aparat desa harus transparan setiap hari, bukan hanya rajin dan disiplin ketika kamera media sudah siap memotret kekurangan mereka.(spi/red)









