Home / Semua Berita / Medan Terkini / Arya Mahendra Sinulingga Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PSSI Sumut Periode 2026 – 2030

Arya Mahendra Sinulingga Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PSSI Sumut Periode 2026 – 2030

Medan,sinarpagiindonesia.com – Arya Mahendra Sinulingga resmi terpilih sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Sumatera Utara periode 2026 – 2030 melalui Kongres Luar Biasa (KLB) pemilihan ketua yang digelar di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara. Pada hari Senin, 12 Oktober 2026. Arya ditetapkan secara aklamasi setelah dua kandidat lainnya, Julius Raja dan Benny Tomasoa, tidak melanjutkan pencalonan hingga proses pemilihan berakhir.

Dengan demikian, Arya Sinulingga menjadi satu-satunya kandidat yang menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan proses pemilihan sampai penetapan ketua dalam forum kongres. Terpilihnya Arya Sinulingga menandai babak baru dalam perjalanan organisasi sepak bola di Sumatera Utara. Setelah menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Sumut selama kurang lebih dua tahun, kini ia memperoleh mandat definitif untuk memimpin organisasi tersebut selama empat tahun ke depan.

Amanah ini sekaligus menghadirkan tantangan besar bagi Arya untuk membenahi tata kelola organisasi, memperkuat sistem kompetisi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia sepak bola, serta membangun pola pembinaan pemain yang berkelanjutan dan menjangkau seluruh kabupaten kota di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kepemimpinan baru PSSI Sumut diharapkan mampu membawa perubahan nyata, terutama dalam menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih profesional, kompetitif, dan berorientasi pada prestasi. Tidak hanya mengejar hasil dalam kompetisi, PSSI Sumut juga dituntut membangun fondasi pembinaan yang kuat agar daerah ini mampu melahirkan pesepak bola berkualitas untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Ketua Komite Kongres Pemilihan Ketua PSSI Sumut, Indra Feriadi, menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat tiga kandidat yang telah dinyatakan lolos verifikasi berkas persyaratan. Namun, menjelang proses penetapan, panitia kembali meminta konfirmasi kepada masing-masing kandidat mengenai kesediaan mereka untuk melanjutkan pencalonan hingga akhir kongres. Dari tiga kandidat tersebut, hanya Arya Mahendra Sinulingga yang menyatakan bersedia melanjutkan proses pemilihan.

Sementara itu, Julius Raja dan Benny Tomasoa, tidak melanjutkan pencalonan sehingga tidak terdapat kandidat lain yang bersaing dalam tahapan akhir pemilihan. Indra menegaskan bahwa mekanisme aklamasi dilakukan sesuai dengan ketentuan statuta yang berlaku, dengan mempertimbangkan kondisi hanya terdapat satu calon ketua yang bersedia melanjutkan proses pemilihan dan memperoleh persetujuan forum.

Dengan penetapan tersebut, Arya Mahendra Sinulingga resmi memperoleh mandat untuk memimpin PSSI Sumut hingga 2030. Keputusan ini menjadi titik awal bagi kepengurusan baru untuk merumuskan program kerja dan menentukan arah pengembangan sepak bola Sumatera Utara dalam beberapa tahun mendatang. Kongres Luar Biasa tersebut dihadiri oleh 33 Asosiasi Kabupaten (Askab), Asosiasi Kota (Askot), serta 15 klub yang berada di bawah naungan PSSI Sumut.

Kehadiran para pemangku kepentingan sepak bola tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan organisasi. Askab, Askot, dan klub memiliki peran strategis karena berhubungan langsung dengan penyelenggaraan kompetisi, pembinaan pemain, serta pengembangan sepak bola di daerah masing-masing. Ke depan, keterlibatan seluruh unsur tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung dalam forum kongres, tapi juga diwujudkan melalui kerja sama nyata dalam menjalankan program organisasi, memperluas kompetisi, dan meningkatkan kualitas pembinaan.

Usai terpilih, Arya Mahendra Sinulingga mengakui bahwa tanggung jawab yang kini diembannya semakin besar. Jika sebelumnya ia menjalankan tugas sebagai Plt Ketua PSSI Sumut, kini dirinya harus memimpin organisasi secara definitif dengan target kerja yang lebih jelas, terukur, dan berorientasi pada hasil. Menurut Arya, perubahan status kepemimpinan tersebut menuntut pengelolaan organisasi yang lebih tertata.

Program kerja harus disusun secara sistematis, pelaksanaan kegiatan perlu dievaluasi secara berkala, dan setiap target pembinaan harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang dapat dirasakan oleh insan sepak bola di Sumatera Utara. “Ya, perasaannya, tanggung jawab sepertinya semakin banyak. Kalau kemarin sebagai Plt kan programnya begitu saja. Kalau sekarang ini harus lebih rapi dan bagus dari kemarin, harus kejar target”, ujarnya kepada wartawan. Pada hari Senin, 12 Oktober 2026, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Agenda utama yang menjadi perhatian Arya adalah membangun sistem pembinaan pemain sejak usia dini. Dia menilai, Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk melahirkan pemain sepak bola berkualitas yang mampu memperkuat tim nasional Indonesia. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang secara maksimal apabila pembinaan hanya dilakukan ketika pemain telah memasuki usia remaja atau senior.

Menurutnya, proses pencarian dan pengembangan bakat harus dimulai sejak usia 8 – 12 tahun melalui latihan terstruktur, kompetisi rutin, serta pendampingan pelatih yang memiliki kompetensi memadai. “Kalau saya jelas, saya mau Sumut itu melahirkan cikal bakal pemain timnas. Dari mana, dari usia 8 – 12 tahun, hanya dengan begitulah kita bisa melahirkan pemain timnas, gak bisa ujuk-ujuk di ujung, harus dari bawah, sehingga nanti setiap minggu sudah main bola terus di seluruh Sumut”, katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan usia dini menjadi salah satu fondasi penting dalam arah kebijakan PSSI Sumut di bawah kepemimpinan Arya. Untuk menghasilkan pemain berkualitas, pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan latihan di sekolah sepak bola atau kegiatan seleksi yang dilaksanakan pada waktu tertentu. Diperlukan sistem yang memungkinkan pemain memperoleh pengalaman bertanding secara konsisten, sehingga kemampuan teknis, pemahaman taktik, kondisi fisik, kedisiplinan, dan mental bertanding dapat berkembang secara bertahap.

Melalui kompetisi yang berkesinambungan, para pemain muda juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan pelatih, pencari bakat, serta pengelola pembinaan. Dengan demikian, talenta yang berpotensi tidak mudah terlewatkan hanya karena berasal dari daerah yang jauh dari pusat perkembangan sepak bola.

Sejalan dengan rencana pembinaan pemain usia dini, Arya Mahendra Sinulingga ingin kompetisi kelompok umur dapat diaktifkan secara rutin di 33 kabupaten / kota di Sumatera Utara. Menurut arah program yang disampaikannya, keberadaan kompetisi secara berkelanjutan merupakan salah satu kebutuhan utama dalam membangun fondasi sepak bola daerah. Kompetisi bukan sekadar ajang untuk menentukan pemenang, melainkan sarana pembelajaran bagi pemain agar terbiasa menghadapi tekanan pertandingan, bekerja sama dalam tim, dan mengembangkan kemampuan sesuai dengan kelompok usianya.

Penyelenggaraan kompetisi yang rutin juga dapat membantu pelatih dan pengelola sepak bola menilai perkembangan pemain secara lebih objektif. Pemain yang menunjukkan potensi dapat memperoleh kesempatan untuk mengikuti pembinaan lanjutan, sementara kekurangan yang masih dimiliki dapat diperbaiki melalui program latihan yang sesuai. Pemerataan kompetisi menjadi perhatian penting agar perkembangan sepak bola tidak hanya terpusat di Kota Medan. Kabupaten dan kota lainnya harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan pertandingan, mengembangkan klub, serta membina pemain muda.

Selama ini, tantangan pengembangan sepak bola daerah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pemain berbakat, tapi juga menyangkut kesempatan bertanding, fasilitas latihan, kualitas pelatih, serta dukungan terhadap klub, dan sekolah sepak bola. Karena itu, pemerataan kompetisi perlu dibarengi dengan perencanaan yang matang. Kalender pertandingan yang jelas, pembagian kelompok umur, penerapan regulasi yang konsisten, serta pengawasan terhadap pelaksanaan kompetisi menjadi unsur penting untuk memastikan program tersebut berjalan efektif.

Apabila kompetisi kelompok umur dapat berlangsung secara rutin dan menjangkau berbagai wilayah, PSSI Sumut akan memiliki peluang lebih besar untuk memetakan potensi pemain berdasarkan daerah, kelompok usia, dan tingkat perkembangan kemampuan. Dalam jangka panjang, sistem tersebut diharapkan menjadi jalur pembinaan yang terhubung dari tingkat lokal menuju kompetisi regional dan nasional. Dengan demikian, pemain muda Sumatera Utara memiliki kesempatan berkembang secara bertahap, bukan hanya mengandalkan seleksi sesaat untuk masuk ke dalam tim yang lebih besar.

Selain membangun pembinaan pemain, Arya Mahendra Sinulingga juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas perangkat pertandingan, khususnya wasit. Ia menargetkan agar wasit asal Sumatera Utara dapat berkembang hingga menembus level internasional dan memperoleh pengakuan FIFA. Target tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sepak bola tidak hanya berorientasi pada pemain, tetapi juga harus mencakup peningkatan kualitas seluruh unsur yang terlibat dalam pertandingan.

Wasit memiliki peran penting dalam menjaga integritas kompetisi. Keputusan yang tepat, pemahaman terhadap peraturan permainan, kemampuan mengendalikan pertandingan, serta ketegasan dalam menerapkan regulasi menjadi bagian penting untuk menciptakan pertandingan yang adil dan berkualitas. Untuk mencapai level yang lebih tinggi, peningkatan kapasitas wasit membutuhkan pembinaan berkelanjutan.

Pendidikan perwasitan, penyegaran aturan permainan, evaluasi kinerja, pengalaman memimpin pertandingan, serta peningkatan kondisi fisik perlu menjadi bagian dari program pengembangan sumber daya manusia sepak bola. Arya menilai bahwa target melahirkan wasit berstandar internasional tidak dapat diwujudkan hanya melalui upaya internal organisasi. Dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar program pembinaan dapat berjalan secara konsisten.

“Kemudian melahirkan wasit sampai ke level FIFA. Tapi ini semua tanpa dukungan pemerintah ini semua tidak mungkin. Jadi kita harap pemerintah daerah juga bisa dukung kita, karena ini hal yang baik juga untuk daerah”, ujarnya. Dukungan pemerintah daerah dinilai penting karena pengembangan sepak bola membutuhkan sumber daya, fasilitas, dan program yang berkelanjutan.

Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten / kota dapat membantu memperluas kesempatan pelatihan, memperbaiki sarana olahraga, serta meningkatkan penyelenggaraan kompetisi di berbagai wilayah. Selain pemerintah, klub, dan pengelola kompetisi juga mempunyai tanggung jawab untuk mendukung terciptanya lingkungan pertandingan yang profesional. Sinergi tersebut diperlukan agar wasit dapat menjalankan tugasnya secara independen, kompeten, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Keberhasilan mencetak wasit berkualitas akan menjadi salah satu indikator perkembangan sepak bola Sumatera Utara. Semakin baik kualitas perangkat pertandingan, semakin besar pula peluang kompetisi daerah berlangsung dengan standar yang lebih tinggi. Serta dukungan pemerintah dan sinergi daerah menjadi kunci.

Arya Mahendra Sinulingga menegaskan bahwa pengembangan sepak bola Sumatera Utara membutuhkan dukungan berbagai pihak. PSSI sebagai organisasi yang mengatur dan membina sepak bola tidak dapat bekerja sendiri tanpa keterlibatan pemerintah daerah, klub, Askab / Askot, pelatih, wasit, serta masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa program pembinaan pemain, pengembangan kompetisi, dan peningkatan kualitas perangkat pertandingan dapat berjalan secara beriringan.

Pemerintah daerah memiliki peran dalam mendukung pembangunan dan pemanfaatan fasilitas olahraga, mendorong kegiatan pembinaan usia dini, serta membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan klub sepak bola. Sementara itu, klub diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam menyediakan jalur pembinaan bagi pemain muda. Klub tidak hanya berfungsi sebagai peserta kompetisi, tetapi juga sebagai tempat bagi pemain untuk mengasah kemampuan, membangun kedisiplinan, dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang sepak bola yang lebih tinggi.

Askab dan Askot juga memiliki posisi strategis dalam menjangkau potensi pemain di daerah. Melalui koordinasi yang baik dengan PSSI Sumut, organisasi sepak bola di tingkat kabupaten / kota dapat membantu memastikan bahwa kompetisi dan pembinaan tidak hanya berkembang di wilayah tertentu. Di sisi lain, transparansi pengelolaan organisasi dan keterbukaan dalam penyusunan program juga menjadi unsur penting untuk membangun kepercayaan seluruh pemangku kepentingan.

Dengan tata kelola yang profesional, setiap program diharapkan memiliki sasaran yang jelas, mekanisme pelaksanaan yang terukur, serta evaluasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kekurangan. Untuk PSSI Sumut, tantangan ke depan bukan hanya menyusun program yang ambisius, tetapi juga memastikan bahwa setiap program dapat dijalankan secara konsisten dan memberikan manfaat nyata bagi perkembangan sepak bola di daerah. Setelah resmi terpilih sebagai Ketua PSSI Sumut periode 2026 – 2030, Arya Mahendra Sinulingga menyatakan akan segera menyusun kepengurusan baru untuk mendukung pelaksanaan program organisasi. Penyusunan kepengurusan menjadi tahapan penting karena keberhasilan seorang ketua dalam memimpin organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan membangun tim kerja yang solid, profesional, dan memiliki komitmen terhadap tujuan bersama.

Kepengurusan baru diharapkan mampu menjalankan tugas berdasarkan pembagian tanggung jawab yang jelas. Setiap bidang perlu memiliki program kerja yang selaras dengan visi organisasi, mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi, perwasitan, pengembangan klub, hingga tata kelola administrasi dan hubungan dengan pemangku kepentingan. Arya menginginkan organisasi dikelola secara lebih profesional dengan visi dan misi yang mengikuti perkembangan sepak bola modern.

Profesionalisme tersebut tidak hanya menyangkut struktur kepengurusan, tetapi juga berkaitan dengan perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, pengelolaan sumber daya, serta evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai.

Dalam konteks pengembangan sepak bola daerah, kepengurusan baru juga perlu membangun komunikasi yang efektif dengan seluruh Askab / Askot dan klub anggota. Hubungan organisasi yang baik menjadi dasar untuk menyatukan kepentingan serta memastikan bahwa program PSSI Sumut dapat diterapkan secara merata. Tantangan lainnya adalah menjaga konsistensi program agar tidak berhenti pada tahap perencanaan.

Pembinaan pemain usia dini, kompetisi kelompok umur, dan peningkatan kualitas wasit membutuhkan kesinambungan serta komitmen jangka panjang. Karena itu, kepengurusan periode 2026 – 2030 diharapkan dapat menetapkan prioritas kerja yang realistis, menentukan indikator keberhasilan, serta melakukan evaluasi secara berkala. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat sepak bola dapat melihat perkembangan organisasi secara terukur.

Terpilihnya Arya Mahendra Sinulingga secara aklamasi membuka kesempatan bagi PSSI Sumut untuk memperkuat fondasi organisasi dan mempercepat pengembangan sepak bola daerah. Dengan masa kepemimpinan definitif hingga 2030, Arya menghadapi pekerjaan besar untuk menerjemahkan gagasan pembinaan menjadi program yang dapat dirasakan oleh pemain, klub, pelatih, wasit, dan masyarakat di seluruh Sumatera Utara. Target melahirkan pemain yang mampu menembus tim nasional menjadi salah satu cita-cita besar yang membutuhkan proses panjang. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada konsistensi pembinaan sejak usia dini, tersedianya kompetisi rutin, pemerataan kesempatan bertanding, serta kemampuan mengidentifikasi dan mengembangkan bakat dari berbagai daerah.

Pada saat yang sama, peningkatan kualitas wasit hingga level internasional dan pembenahan tata kelola organisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan daya saing sepak bola Sumatera Utara. Dukungan pemerintah daerah, klub, Askab / Askot, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program-program tersebut. Garapan terhadap kepemimpinan Arya Mahendra Sinulingga tidak hanya bertumpu pada target dan pernyataan yang disampaikan setelah terpilih.

Masyarakat sepak bola Sumatera Utara tentu menantikan langkah nyata, program yang berjalan konsisten, serta hasil pembinaan yang dapat diukur dari waktu ke waktu. Empat tahun ke depan menjadi periode penting untuk membuktikan bahwa kepemimpinan baru PSSI Sumut mampu membawa perubahan yang lebih terarah, memperluas kesempatan bagi talenta muda, dan membangun ekosistem sepak bola yang profesional serta berkelanjutan. Dengan fondasi organisasi yang kuat dan dukungan seluruh pihak, Sumatera Utara diharapkan mampu memperbesar kontribusinya dalam melahirkan pemain berkualitas, meningkatkan mutu kompetisi, dan mendorong kemajuan sepak bola Indonesia. Semua kontribusi akan dilakukan untuk kemajuan sepak bola Sumut.

(SPI/Wisnu Sembiring, S.Sos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *