Medan,sinarpagiindonesia.com –Meninggalnya seorang calon Bintara TNI saat mengikuti pendidikan di Rindam I/Bukit Barisan menjadi perhatian publik. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Insan Pers Solidaritas Indonesia (HIPSI) Sumatera Utara mendesak Rindam I/Bukit Barisan dan Kodam I/Bukit Barisan memberikan penjelasan secara terbuka terkait peristiwa tersebut serta bertanggung jawab apabila dalam proses penyelidikan ditemukan adanya pelanggaran.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Sekretaris DPD HIPSI Sumatera Utara, Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos., saat diwawancarai di Warkop Agam Nyan Cap, Jalan Kapten Muslim, Medan, Kamis (23/7/2026).
Dalam keterangannya, Dodi menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Genial Gavensi Gulo, pemuda asal Kabupaten Nias Barat yang dilaporkan meninggal dunia setelah beberapa hari mengikuti pendidikan calon prajurit di Rindam I/Bukit Barisan.
Menurut Dodi, setiap calon prajurit yang mengikuti pendidikan berhak memperoleh jaminan keselamatan, pelayanan kesehatan, serta perlakuan yang manusiawi selama menjalani proses pembinaan.
“Seorang anak bangsa berangkat membawa cita-cita mengenakan seragam TNI, tetapi justru kembali dalam keadaan tidak bernyawa. Peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Nyawa calon prajurit bukan harga yang harus dibayar untuk mengabdi kepada negara,” ujarnya.
HIPSI Sumut juga mendesak Rindam I/Bukit Barisan dan Kodam I/Bukit Barisan segera memberikan penjelasan resmi kepada keluarga korban dan masyarakat mengenai kronologi kejadian secara terbuka, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dodi menegaskan, apabila hasil penyelidikan menemukan adanya kelalaian, pelanggaran prosedur, atau tindakan yang bertentangan dengan hukum maupun standar pembinaan, maka pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kehormatan institusi TNI tidak akan berkurang karena mengungkap kebenaran. Sebaliknya, kepercayaan masyarakat akan semakin kuat apabila institusi menunjukkan keberanian untuk bersikap transparan, melakukan evaluasi, dan menindak setiap pihak yang terbukti bertanggung jawab,” katanya.
Selain itu, HIPSI Sumatera Utara mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, pola pembinaan, mekanisme pengawasan, serta standar perlindungan kesehatan dan keselamatan peserta didik di lingkungan pendidikan militer guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
Menurut Dodi, peristiwa yang menimpa Genial Gavensi Gulo harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap seluruh calon prajurit. Ia menambahkan, berbagai elemen masyarakat akan terus mengawal penanganan kasus tersebut dan berharap proses penyelidikan dilakukan secara profesional, independen, transparan, serta mampu memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi keluarga almarhum.
“Keadilan bagi Genial Gavensi Gulo bukan hanya untuk satu keluarga, tetapi juga untuk menjaga kehormatan institusi serta memastikan tidak ada lagi calon prajurit yang kehilangan nyawa tanpa kejelasan. Negara harus hadir, mengungkap seluruh fakta, dan memberikan keadilan kepada keluarga korban,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak Rindam I/Bukit Barisan maupun Kodam I/Bukit Barisan mengenai kronologi maupun penyebab meninggalnya calon prajurit tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan akan memuat penjelasan resmi dari pihak terkait sebagai bagian dari penerapan prinsip pemberitaan yang berimbang.
(spi/yudi)








