Home / Semua Berita / Daerah / “Ironis” Siswa SD Kelas 4&5 Belum Bisa Membaca di SDN Kampung Baru,Copot Kepala Sekokahnya

“Ironis” Siswa SD Kelas 4&5 Belum Bisa Membaca di SDN Kampung Baru,Copot Kepala Sekokahnya

Aceh Singkil,sinarpagiindonesia.com -Sungguh sangat ironis, siswa Kls 4 dan 5 ada yang belum bisa membaca di salah satu SD Negri di,Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil, menjadi sorotan. Proses belajar mengajar di sekolah tersebut diduga belum berjalan secara efektif dan maksimal, sehingga mutu pendidikan para siswa mulai dipertanyakan hal tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah dan para guru.

Pemerhati daerah, Budi Harjo, mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mengajar di sekolah tersebut bila perlu “copot Kepala Sekolah SDN tersebut”.

Sorotan semakin serius karena muncul dugaan adanya siswa yang telah duduk di kelas 4 bahkan kelas 5 SD namun masih belum mampu membaca dengan baik. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius terhadap efektivitas proses pembelajaran dan kemampuan dasar yang seharusnya telah dikuasai siswa sejak jenjang kelas awal.

“Kalau benar ada siswa kelas 4 atau kelas 5 yang masih belum bisa membaca, ini bukan persoalan kecil. Ini harus menjadi alarm keras bagi pihak sekolah dan Dinas Pendidikan. Jangan sampai anak-anak naik kelas, tetapi kemampuan dasar membaca mereka belum dikuasai,” tegas Budi Harjo.

Menurutnya, kualitas pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan gedung dan fasilitas sekolah. Hal paling utama adalah bagaimana guru menjalankan proses belajar mengajar dan sejauh mana siswa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

“Kalau sistem mengajar tidak efektif, maka siswa yang menjadi korban. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mencerdaskan anak bangsa. Karena itu, jangan sampai proses belajar mengajar hanya sekadar menjalankan rutinitas tanpa melihat hasil dan perkembangan kemampuan siswa,” tegasnya.

Ia menilai, adanya dugaan guru yang belum maksimal dalam menjalankan proses pembelajaran harus menjadi perhatian serius. Dinas Pendidikan diminta tidak hanya menerima laporan administratif dari sekolah, tetapi juga melakukan pengawasan langsung terhadap kegiatan belajar mengajar dan kemampuan akademik para siswa.

“Dinas Pendidikan harus turun ke lapangan. Lihat langsung bagaimana proses belajar mengajar berlangsung dan lakukan evaluasi kemampuan siswa. Jangan sampai laporan di atas kertas terlihat baik, tetapi kenyataan di ruang kelas berbeda,” ujarnya.

Budi Harjo juga mempertanyakan apakah sistem pembelajaran di SD Negeri Kampung Baru telah berjalan sesuai standar pendidikan, termasuk kedisiplinan guru, metode mengajar, kehadiran tenaga pendidik, serta capaian belajar para siswa.

“Kalau guru hadir tetapi proses mengajarnya tidak maksimal, tentu mutu pendidikan akan sulit meningkat. Apalagi jika ada siswa kelas 4 atau 5 yang belum menguasai kemampuan membaca. Ini harus dievaluasi secara serius, bukan dibiarkan,” katanya.

Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil segera melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap sistem pembelajaran di SD Negeri Kampung Baru, termasuk melakukan pemetaan kemampuan membaca siswa dari kelas rendah hingga kelas tinggi.

“Anak-anak adalah generasi masa depan. Mereka tidak boleh menjadi korban sistem pendidikan yang tidak efektif. Kalau ada guru yang kurang maksimal, harus dibina dan dievaluasi. Kalau sistemnya bermasalah, harus segera diperbaiki,” pungkas Budi Harjo.
(spi/muji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *