Nadya, siswi SD Negeri 12 Hariara Pintu, Kecamatan Harian, tampil membawakan tiga lagu, yakni “Kejar Mimpi” ciptaan Maudy Ayunda, “Lulu Doa Tu Tuhan” ciptaan Billi Simarmata, dan “Marparbue Do Lojami” ciptaan Robert Pakpahan.
Sejak lagu pertama berkumandang, suasana berubah. Nadya membawakan “Kejar Mimpi” dengan penuh penghayatan dan percaya diri, layaknya seorang penyanyi muda yang telah terbiasa berdiri di atas panggung. Vokalnya yang stabil, ekspresi yang alami, serta kemampuannya membangun komunikasi dengan penonton membuat banyak pasang mata tertuju kepadanya.
Para kepala sekolah dari jenjang PAUD, SD, dan SMP se-Kabupaten Samosir yang hadir tampak mengabadikan penampilan Nadya menggunakan Handphone Android mereka. Sejumlah wartawan yang meliput kegiatan tersebut juga merekam setiap lagu yang dibawakannya. Bahkan, beberapa tamu undangan naik ke depan panggung sederhana untuk memberikan saweran sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang memukau.
Momen itu menjadi bukti bahwa bakat yang dimiliki Nadya mampu menyentuh hati para penonton. Apresiasi yang diterimanya bukan hanya karena kualitas suara yang indah, tetapi juga karena keberanian seorang anak usia sekolah dasar tampil percaya diri di hadapan ratusan orang.
Pilihan lagu “Kejar Mimpi” terasa begitu dekat dengan perjalanan Nadya saat ini. Beberapa hari sebelumnya, ia dinyatakan lolos sebagai finalis Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) 2026 jenjang SD/MI cabang Menyanyi Solo. Ia akan mewakili Kabupaten Samosir sekaligus Provinsi Sumatera Utara di tingkat nasional.
Lagu yang dibawakannya seakan menjadi cerminan langkah yang sedang ia tempuh. Pesan tentang menaklukkan keraguan dan memberanikan diri tercermin dalam keberanian Nadya berdiri di atas panggung. Di usianya yang masih belia, ia telah membuktikan bahwa rasa takut dapat dikalahkan dengan latihan, disiplin, dan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
Semangat dalam lagu itu juga mengajarkan bahwa mimpi harus dikejar setinggi mungkin dan tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi tantangan. Bagi Nadya, setiap latihan vokal, setiap penampilan, hingga keberhasilannya lolos ke FLS3N Nasional merupakan bagian dari proses untuk terus “terbang tinggi” menggapai cita-cita.
Lirik yang menyampaikan bahwa tidak ada yang tak mungkin dan selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi menjadi motivasi yang sangat relevan bagi perjalanan Nadya. Dunia pendidikan tidak hanya membentuk prestasi, tetapi juga karakter pantang menyerah. Pesan itu mengingatkan bahwa keberhasilan lahir dari keberanian untuk terus belajar, bangkit ketika gagal, dan tidak pernah berhenti berusaha.
Kehadiran Nadya pada acara tersebut bersama kepala sekolah dan guru pendampingnya juga menunjukkan bahwa keberhasilan seorang anak merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. Sekolah memberikan ruang untuk berkembang, guru membimbing dengan sabar, sementara keluarga menjadi tempat pertama yang menanamkan semangat untuk terus belajar dan berprestasi.
Bagi dunia pendidikan Kabupaten Samosir, Nadya Agatha Sihotang menjadi salah satu bukti bahwa potensi besar dapat lahir dari sekolah dasar di daerah. Prestasi bukan semata-mata diukur dari piala yang diraih, melainkan dari proses pembentukan karakter, disiplin, kerja keras, serta keberanian tampil di depan publik.
Kini, langkah Nadya menuju panggung nasional telah dimulai. Ketika ia menyanyikan “Kejar Mimpi”, publik tidak hanya menikmati sebuah lagu, tetapi juga menyaksikan kisah nyata seorang anak yang sedang menapaki jalan menuju cita-citanya. Semoga pesan yang dibawakan melalui lagu tersebut benar-benar menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya: terus berani bermimpi, terus berusaha, terus mencoba, dan percaya bahwa dengan kerja keras, tidak ada yang mustahil untuk diraih.(spi/FS)








