Alih-alih menikmati dampak positif konektivitas, masyarakat justru dibayangi polusi udara berupa debu tebal yang terus-menerus beterbangan di kawasan pemukiman padat penduduk.
Keluhan ini mencuat seiring berjalannya pekerjaan peningkatan ruas Jalan Lintas Aceh Selatan – Kuala Baru – Singkil – Telaga Bakti.
Partikel debu halus dilaporkan tidak hanya mengganggu di udara terbuka, tetapi juga masuk ke dalam rumah warga, menempel pada perabotan, hingga mengotori ruang tidur, sehingga kenyamanan dan kebersihan lingkungan rumah tangga terganggu secara signifikan.
Sabirin, salah seorang warga Desa Ujung Bawang, menyampaikan keprihatinan tersebut kepada media pada Rabu (26/8/2026).
Ia menyoroti minimnya langkah antisipatif dari pihak pelaksana proyek dalam menekan dampak lingkungan yang berpotensi merugikan kesehatan masyarakat.
“Pada dasarnya kami sangat mendukung program pembangunan pemerintah, apalagi ini menyangkut jalan.
Namun, kontraktor jangan mengabaikan standar operasional pelaksanaan pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan dampak lingkungan dan kesehatan warga,” ujarnya.
Warga meminta agar pihak pelaksana, CV. Kuta Raja Lestari, segera menyiagakan alat penyiraman jalan di kawasan pemukiman padat penduduk tersebut agar debu tidak terus-menerus beterbangan sepanjang hari. Menurutnya, solusi teknis yang diperlukan sebenarnya sederhana, namun sangat krusial.
“Kami memohon kepada pihak kontraktor agar lebih memperhatikan kesehatan warga. Saat ini kami terpaksa menghirup udara kotor setiap hari karena debu yang begitu pekat.
Memasuki musim kemarau, debu semakin mudah terangkat dan terbang masuk ke rumah-rumah.
Seharusnya pihak pelaksana sudah antisipatif dengan menyiagakan tangki air untuk menyiram jalur yang berdebu,” tegasnya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Paparan debu silika dan partikel halus dalam jangka panjang berpotensi memicu berbagai gangguan pernapasan, mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga penyakit paru-paru kronis.
Risiko ini menjadi semakin mengkhawatirkan mengingat banyak rumah di kawasan tersebut dihuni oleh kelompok rentan, termasuk bayi dan lansia.
“Jika dibiarkan berkepanjangan, bukan tidak mungkin warga akan terserang berbagai penyakit pernapasan. Bayangkan dampaknya bagi bayi-bayi yang ada di dalam rumah.
Kami butuh kepastian bahwa pihak pelaksana akan siaga dengan tangki air penyiram jalan,” tambahnya.
Kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja serta tanggung jawab sosial menjadi hal yang tak terpisahkan dari setiap pelaksanaan proyek pembangunan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu respons konkret dari pihak CV. Kuta Raja Lestari terkait permintaan penyediaan fasilitas penyiraman jalan.
Masyarakat berharap adanya dialog yang konstruktif antara warga, pelaksana proyek, dan pemerintah daerah agar pembangunan dapat berjalan lancar tanpa meninggalkan dampak buruk bagi kesehatan dan kesejahteraan komunitas lokal.(spi/red)








